library-922310_960_720

Oleh:

IWIN ARDYAWIN, S.Sos

Kebutuhan akan informasi pemustaka pada saat sekarang ini semakin meningkat. Pustakawan dalam hal ini sebagai specialis information harus bisa memberikan kontribusi kepada pemustaka karena pustakawan sebagai ujung tombak dari sebuah perpustakaan yang harus mampu memberikan solusi maupun saran kepada pemustaka yang haus akan informasi. Perpustakaan sebagai penyedia informasi harus memberikan gebrakan-gebrakan baru dalam hal layanan informasi karena pemustaka pada saat sekarang ini sudah bisa membedakan atau mengkritik kondisi apa saja yang terjadi ketika pemustaka berada dalam sebuah perpustakaan. Bukan rahasia umum lagi bagaimana pustakawan ketika memberikan pelayanan kepada pemustaka kurang begitu mengena dihati para pemustakanya padahal dalam perpustakaan pelayanan yang maksimal akan memberikan dampak positif terhadap kemajuan perpustakaan karena satu kali seseorang berbuat baik maka itu akan selalu diingat oleh orang tersebut, lalu bagaimana kalau lebih dari itu?? Hehe…

Sudah semestinya pustakawan mulai bangkit memberikan pemikiran-pemikiran cemerlangnya dalam upaya perbaikan perpustakaan yang semakin hari semakin dibutuhkan oleh pemustakanya. Jangan sampai perpustakaan yang sudah ada pada saat sekarang ini ditinggal oleh pemustakaan secara mundur teratur karena bagi pemustaka sudah tidak ada lagi kondisi dimana pemustaka merasa sangat nyaman, tenang, betah berlama-lama di dalam perpustakaan.

Sudah tiba waktunya pustakawan menyinari dinding-dinding, ruang-ruang perpustakaan dengan inovasi, karya, ide-ide kreatif pustakawan yang selalu dinanti nanti sehingga bisa merubah mindset pemustaka bahwa mengunjungi perpustakaan adalah suatu kebutuhan. Ketika perpustakaan sudah menjadi suatu kebutuhan oleh pemustaka berbahagialah pustakawan karena dengan demikian perpustakaan sudah selangkah didepan. Hal seperti inilah yang harus selalu ada disetiap sanubari jiwaraga pustakawan, selalu berjuang dengan kondisi-kondisi yang ada pada saat sekarang ini sehingga pelan namun pasti pustakawan akan tetap bersinar dihati pemustakanya untuk terus memberikan kejutan-kejutan spesial untuk kemajuan dan eksistensi perpustakaan.

Refrerensi:

https://pixabay.com/en/library-books-corridor-culture-922310/, diakses 16 Juni 2016.

Iklan

 stuttgart-980526_960_720

Oleh :

IWIN ARDYAWIN, S.Sos

 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi dalam bentuk buku mengharuskan pustakawan bekerja keras untuk melaksanakan pemilihan atau menyeleksi buku dalam kegiatan pengadaan di perpustakaan. Pustakawan harus mampu menyediakan buku-buku yang diminati oleh penggunanya, terutama pendidikan karena perpustakaan bertindak selaku penyimpan ilmu pengetahuan dan berperan dalam proses transformasi pengetahuan dan informasi. Perpustakaan dikatakan berhasil jika dapat memenuhi kebutuhan informasi yang relevan dengan kebutuhan pemakai. Keberhasilan perpustakaan dalam memberikan layanan tidak terlepas dari kegiatan pelayanan informasi.

Sulistyo-Basuki mengemukakan bahwa perpustakaan merupakan sebuah ruangan, bagian gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya sebagai sumber informasi, yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca baik berupa media cetak maupun elektronik, dan  bukan untuk dijual. Jadi, tujuannya bukan untuk mencari keuntungan. Dengan melihat tujuan perpustakaan tersebut maka untuk menjamin ketersediaan sumber informasi bagi pengguna, maka sebuah perpustakaan itu harus kaya akan bahan pustaka atau koleksi. Untuk mengoptimalkan perpustakaan tersebut salah satu kegiatan yang harus dilakukan adalah pengembangan koleksi perpustakaan.

Pengembangan koleksi di perpustakaan pada hakikatnya adalah proses mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki suatu perpustakaan yang dihubungkan dengan pengguna atau masyarakat yang dilayaninya. Bahan pustaka merupakan semua koleksi yang dapat menjadi sumber informasi bagi pengguna (user). Bahan pustaka dapat berupa buku, majalah, atau bahan tercetak lainnya, bahan pustaka tersebut dapat dikembangkan dengan menambah jenis maupun kuantitasnya.

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan perkembangan gaya hidup masyarakat sekarang membuat suatu informasi menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan masyarakat modern, dengan perkembangan iptek yang terus berkembang memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam mengakses suatu informasi secara cepat, tepat dan mudah. Dalam lingkungan kehidupan masyarakat perpustakaan sebagai lembaga penyedia jasa informasi memberikan akses kemudahan kepada seluruh kalangan masyarakat untuk mengakses informasi secara gratis mudah dan cepat.

Namun kenyataannya masih banyak masyarakat enggan untuk datang ke perpustakaan, hal ini disebabkan masih banyak masyarakat berpikir bahwa perpustakaan hanyalah sebuah gedung tumpukan buku yang berdebu dan kurang menarik untuk dikunjungi. Dalam hal ini perpustakaan terus berbenah untuk menarik minat masyarakat untuk berkunjung keperpustakaan, adapun diantaranya yang dibenahi oleh perpustakaan yaitu, dari pelayanan terus ditingkatkan untuk memberikan kepuasaan kepada pemustaka,  dari fasilitas terus dilengkapi dan dikembangkang dengan perkembangan teknologi yang lebih baik untuk memeberikan kenyamanan kepada pemustaka dalam memanfaatkan fasilitas pepustakaan, dari koleksinya terus ditambah dan terbaru dalam menyediakaan kebutuhan informasi yang diinginkan pemustaka, serta dalam pengelolaan perpustakaan selalu dikoreksi setiap tahunnya untuk mngetahui kekurangan dan keluhan pemustaka untuk diperbaiki menjadi lebih baik lagi.

Perpustakaan dapat dilihat sampai ke pusat sumber daya informasi, artinya perpustakaan tidak hanya sebagai penyedia informasi bagi pemustaka, tetapi pemustaka yang mengakses informasi di perpustakaan diharapkan mampu menghasilkan informasi atau pengetahuan baru dari informasi atau pengetahuan baru yang didapatkan dari perpustakaan. Perpustakaan juga merupakan suatu unit kerja yang substansinya merupakan sumber informasi yang setiap saat dapat digunakan oleh pengguna jasa layanannya. Perpustakaan selalu dikaitkan dengan buku sementara buku dekat dengan kegiatan belajar, maka perpustakaanpun sangat dekat dengan kegiatan belajar. Hanya saja, perpustakaan bukan tempat sekolah dalam arti formal. Dalam kajian tentang tahapan pengembangan koleksi agar dalam proses pengadaan melahirkan koleksi yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan informasi pengguna serta memiliki relevansi dengan perkembangan teknologi informasi terkini.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Soeatminah. 1992. Perpustakaan, kepustakawanan dan pustakawan. Bandung:      Kanisius

Soedjono Trimo. 1998. Pengadaan dan pemilihan Bahan Pustaka. Bandung:         Angkasa

Sulistyo-Basuki,. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka             Utama.

Sumardji, P. 1995. Mengelola Perpustakaan. Yogyakarta: Kanisius

https://pixabay.com/en/photos/perpustakaan, diakses 16 Juni 2016.

 

 

 

library-684403_960_720

Oleh :

IWIN ARDYAWIN, S.Sos.

 

Perpustakaan tetap merupakan sumber informasi bagi masyarakat yang haus akan informasi. Namun sayangnya, banyak masyarakat yang tidak mengetahui dan tidak peduli dengan keberadaan perpustakaan. Keterbukaan informasi sangat cepat merambat kesegenap lapisan masyarakat yang ada di dunia maupun disekitar kita, perkembangan teknologi semakin pesat dan canggih. Hal ini berpengaruh pada budaya masyarakat Indonesia. Kebutuhan akan informasi masyarakat kini semakin tinggi, dulu informasi hanya sebagai pelengkap atau bisa dikatakan orang masih bisa hidup tanpa adanya informasi. Di era kini informasi terus dicari, karena informasi kini telah menjadi kebutuhan masyarakat yang haus akan perkembangan zaman dimana informasi pada saat sekarang ini bisa kita dapatkan dimana saja. Karena pada saat sekarang ini orang akan sangat membutuhkan informasi untuk semua kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat informasi pada saat sekarang ini.

Di negara yang sudah maju, perpustakaan merupakan cermin kemajuan masyarakatnya karena perpustakaan adalah bagian dari kebutuhan hidup sehari-hari. Hal itu diikuti dengan kemudahan memperoleh akses dan kelengkapan sarana dan ketersediaan sumber informasi yang sangat memadai.Sedangkan eksistensi dan perhatian masyarakat terhadap perpustakaan di negara-negara berkembang masih sangat terbatas. Kalaupun perhatian itu ada, hanya sebatas keinginan dan bukan merupakan salah satu kebutuhan mereka. Apalagi dengan krisis ekonomi global saat ini, dimana orang lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan sosial, dan ekonomi mereka. Sehingga sedikit dari mereka yang mengetahui tujuan,fungsi maupun peran perpustakaan sekarang ini.

Wiji Suwarno menjelaskan bahwa peradaban umat manusia sedikit banyak, langsung atau tidak, ditentukan oleh eksistensi informasi. Eksistensi ini dimulai dari masyarakat purba yang menggambar dinding gua, bahasa bunyi-bunyian, atau isyarat asap, yang semuanya menggunakan teknologi sederhana dari hasil alam, kemudian berkembang menjadi masyarakat tradisional, masyarakat industri, dan hingga kini masyarakat modern, ditambah dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang canggih, masyarakat tersebut disebut juga sebagai masyarakat informasi (information society). Informasi yang merupakan hasil dari pengolahan data dan fakta menjadi komoditas, informasi yang lengkap, valid, cepat, dan sesuai dengan kebutuhan bernilai tinggi jika dimanfaatkan untuk menghasilkan analisis yang dapat dipakai sebagai dasar untuk mengambil keputusan dan kebijakan.

 Layanan perpustakaan merupakan ujung tombak dari kegiatan perpustakaan karena di dalamya terjadi pola interaksi antara pustakawan dengan berbagai macam pengguna perpustakaan. Komunikasi yang terjadi antara pustakawan dengan pengguna  dalam pelayanan dimulai ketika adanya perhatian pustakawan terhadap kebutuhan pengguna. Pada saat-saat tersebut, peran pustakawan sebagai konsultan informasi sangat besar artinya, karena ia berhubungan langsung dengan pengguna yang membutuhkan informasi. Inilah kunci terjalinnya hubungan baik antara pustakawan dengan pengguna karena kemampuan pustakawan dalam menyampaikan informasi dapat menumbuhkan kepercayaan pengguna terhadap pustakawan.

Masyarakat informasi menghadapkan kita pada tantangan-tantangan baru dan kesempatan perkembangan-perkembangan menuju seluruh area dari masyarakat. Dampak dari teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi sebuah definisi sementara yang kuat. Definisi ini menstranformasi aktivitas ekonomi dan social. Kunci yang penting dari jaringan teknologi dalam masyarakat informasi adalah teknologi membantu kita untuk membuat koneksi-koneksi baru koneksi-koneksi ketika tantangan tradisional menerima apa yang mungkin, dan ketika hal tersebut menjadi mungkin. Perkembangan masyarakat informasi telah menjadi bagian penting bagi masyarakat ekonomi kecil. Masyarakat informasi membuka pengembangan jaringan ekonomi global, tempat pengetahuan berbasis pada inovasi yang menjadi kunci sumber dari penopang keuntungan yang kompetitif sehingga perpustakaan harus berperan aktif dalam memberikan layanan informasi untuk memenuhi kebutuhan informasi terhadap pengguna perpustakaan.

Paradigma perpustakaan saat ini adalah merupakan sumber informasi karena perpustakaan menyimpan berbagai jenis koleksi, baik tercetak maupun terekam. Koleksi tersebut merupakan informasi yang telah diolah dan dapat dipertanggungjawabkan kesasihannya. Akses terhadap informasi di perpustakaan untuk saat ini sudah cukup baik dan cepat walaupun informasi yang ada di perpustakaan untuk segi kemuktahirannya belum dapat dibanggakan. Ketidakmuktahiran perpustakaan ini mengakibatkan pengguna lebih memilih mencari informasi di dunia maya (internet) sebagai sumber informasi. Namun demikian, informasi-informasi dari internet masih harus diperhatikan kesahihannya, apakah benar-benar fakta atau hanya fiksi atau sekadarnya. Perpustkaan memiliki koleksi yang cukup banyak ragam dan bentuknya sehingga koleksi tersebut dapat disebut sebagai informasi. Koleksi perpustakaan merupakan asset dan sumber daya yang tak ternilai harganya karena koleksi tersebut berisi kumpulan rekaman pengetahuan yang telah teruji dapat digunakan untuk apa saja dan oleh siapa saja.

DAFTAR PUSTAKA

Effendy, Onong Ucjana.1993. Dinamika Komunikasi. Bandung : Remaja Rosda    Karya.

Sulistyo Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta. PT Gramedia Pustaka         Utama.

Sukaesih.1998. Pokok Bahasan Pelayanan Perpustakaan (suatu pengantar). Jurusan Ilmu Perpustakaan Fikom Unpad.

Sutarno NS, 2006. Manajemen Perpustakaan. Jakarta, Sagung Seto.

Wiji Suwarno. 2010. Ilmu Perpustakaan dan Kode Etik Pustakawan. Jogjakarta. Ar- Ruzz.

Wiji Suwarno. 2010. Pengetahuan Dasar Kepustakaan. Bogor. Ghalia Indonesia.

https://pixabay.com/en/photos/perpustakaan, diakses 16 Juni 2016.

library-488686_960_720

Oleh:

IWIN ARDYAWIN, S.Sos.

 

Perpustakaan merupakan pusat sumber informasi yang memiliki pengguna yang kebutuhannya terus berubah dalam memenuhi kebutuhan informasi. Memahami bagaimana kebutuhan itu merupakan unsur penting dalam perencanaan layanan informasi di perpustakaan pada masa mendatang. Memahami kebutuhan informasi pemustaka memerlukan kerja sama antara pustakawan dan pemustaka. Pemustaka merupakan prioritas utama kelangsungan hidup lembaga informasi seperti perpustakaan. Kebutuhan informasi pemustaka perlu diidentifikasi dalam rangka memuaskan pemustaka. Kepuasan pemustaka akan berimplikasi kepada perbaikan terus menerus sehingga kualitas harus diperbarui setiap saat agar pemustaka terpenuhi kebutuhan informasinya.

Berdasarkan undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, pemustaka adalah pengguna perpustakaan, yaitu perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan. Pemustaka dapat menentukan kualitas seperti apa menyampaikan apa dan bagaimana kebutuhan informasi mereka. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa informasi yang ada di dunia ini sangat banyak dan beragam. Sebagian sudah disimpan di perpustakaan-perpustakaan, serta masyarakat yang membutuhkannya demikian kompleks dan beragam pula, maka hal ini tidaklah mudah menanganinya. Namun demikian, prinsip yang utama adalah bagaimana agar pemustaka yang menggunakan jasa informasi yang kondisinya beragam itu bisa menemukan atau mendapatkan informasi yang dibutuhkan, yakni informasi yang berkaitan dengan bidang minatnya masing-masing. Masyarakat yang mendapat kemudahan akses informasi akan mampu belajar lebih banyak, sebab dengan informasi yang diperolehnya akan menambah wawasan dan pengalaman.

Wiji Suwarno mengungkapkan bahwa dalam paradigma baru, perpustakaan adalah sesuatu yang hidup,dinamis,segar menawarkan hal-hal yang baru, produk layanannya inovatif dan dikemas sedemikian rupa, sehingga apa pun yang ditawarkan oleh perpustakaan akan menjadi atraktif, interaktif, edukatif dan rekreatif bagi pengunjungnya. produk layananya dipublikasikan melalui berbagai cara, baik melalui media cetak maupun media elektronik kepada masyarakat. Perpustakaan di kelola secara profesional. Pegawainya berpenampilan rapi,ramah,dapat memberikan layanan yang menyenangkan kepada masyarakat pengguna perpustakaan. Gedung atau ruanganya ditata dengan apik, sejuk dan nyaman mengikuti perkembangan zaman.

Pawit M. Yusup mengemukakan Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) membutuhkan informasi,tetapi bisa juga menghasilkan informasi. Sebagai konsekuensi dari adanya perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat, maka informasi pun menjadi berkembang dengan sangat cepat Dengan perkembangan informasi  seperti ini mengharuskan pihak pengelola sumber informasi untuk bekerja lebih giat lagi supaya tidak terlalu ketinggalan zaman dalam mengikutinya.

Kajian tentang perilaku pencarian informasi juga dilakukan oleh pakar manajemen, terutama untuk riset pemasaran produk. Di dunia perpustakaan, informasi menjadi garapan utama pengelolaannya untuk kepentingan peningkatan kualitas manusia pada umumnya. Dengan menggunakan metode penyebaran informasi, diharapkan masyarakat dapat mengakses secara terbuka sehingga pengetahuan masyarakat akan terus meningkat sejalan dengan penghidupannya. Terlihat pula bahwa kebutuhan akan informasi tidak langsung berubah menjadi perilaku mencari informasi, melainkan harus dipicu terlebih dahulu oleh pemahaman seseorang tentang tekanan dan persoalan dalam hidupnya (Wilson menggunakan istilah “teori” untuk hal ini, walaupun yang dimaksud adalah pengetahuan pribadi seseorang tentang dunianya). Kemudian, setelah kebutuhan informasi berubah menjadi aktivitas mencari informasi, ada beberapa hal yang mempengaruhi perilaku tersebut menurut Donald O. Case, yaitu:

  1. Kondisi psikologis seseorang. Cukup masuk akal, bahwa seseorang yang sedang risau dan bertampang memble akan memperlihatkan perilaku pencarian informasi yang berbeda dibandingkan dengan seseorang yang sedang gembira dan berwajah sumringah.
  2. Demografis, dalam arti luas menyangkut kondisi sosial-budaya seseorang sebagai bagian dari masyarakat tempat ia hidup dan berkegiatan. Kita dapat menduga bahwa “kelas sosial” juga dapat mempengaruhi perilaku pencarian informasi seseorang, walau mungkin pengaruh tersebut lebih banyak ditentukan oleh akses seseorang ke media perantara. Perilaku seseorang dari kelompok masyarakat yang tak memiliki akses ke Internet pastilah berbeda dari orang yang hidup dalam fasilitas teknologi melimpah.
  3. Peran seseorang di masyarakatnya, khususnya dalam hubungan interpersonal, ikut mempengaruhi perilaku pencarian informasi. Misalnya, peran “menggurui” yang ada di kalangan dosen akan menyebabkan perilaku pencarian informasi berbeda dibandingkan perilaku mahasiswa yang lebih banyak berperan sebagai “pelajar”. Jika kedua orang ini berhadapan dengan pustakawan, peran-peran mereka akan ikut mempengaruhi cara mereka bertanya, bersikap, dan bertindak dalam kegiatan mencari informasi.
  4. Lingkungan, dalam hal ini adalah lingkungan terdekat maupun lingkungan yang lebih luas, sebagaimana terlihat di gambar sebelumnya ketika Wilson berbicara tentang perilaku orang perorangan.
  5. Karakteristik sumber informasi, atau mungkin lebih spesifik: karakter media yang akan digunakan dalam mencari dan menemukan informasi. Berkaitan dengan 2 hal di atas, orang-orang yang terbiasa dengan media elektronik dan datang dari strata sosial atas pastilah menunjukkan perilaku pencarian informasi berbeda dibandingkan mereka yang sangat jarang terpapar media elektronik, baik karena keterbatasan ekonomi maupun karena kondisi sosial-budaya.

Kelima faktor di atas, menurut Wilson, akan sangat mempengaruhi bagaimana akhirnya seseorang mewujudkan kebutuhan informasi dalam bentuk perilaku pencarian informasi. Namun pada kenyataannya, model-model perilaku pencarian informasi di perpustakaan sekarang ini kurang diterapkan. Hal ini dapat dilihat dari perilaku pengguna yang kurang memuaskan ketika mencari sumber-sumber informasi yang dibutuhkan. Oleh sebab itu, kajian tentang perilaku pencarian informasi juga dilakukan oleh pakar manajemen saja. Perilaku kebutuhan khusus maupun non khusus terdapat perbedaan. Makalah ini ingin mengetahui tentang model-model perilaku pencarian informasi di perpustakaan.

Model perilaku pencarian informasi adalah keseluruhan pola dan tingkah laku manusia sepanjang memikirkan, mencari dan memanfaatkan informasi dari beragam saluran sumber dan media. Model perilaku pencarian informasi dipengaruhi banyak faktor, seperti psikologi, demografi, profesi dan kebutuhan informasi yang dicari. Perbandingan model-model perilaku pencarian informasi terdapat pada penyebab utama, faktor utama, dan hasil.

 

DAFTAR PUSTAKA

Basuki, Sulistyo. 2011. Materi Pokok Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka.

Donald O. Case. 2002.  Looking  for Information. London: Academic Press

Yusup, Pawit dan Subekti, Priyo. 2010. Teori dan Praktik Penelusuran Informasi. Jakarta: Kencana.

Suwarno, Wiji. 2010. Ilmu Perpustakaan & Kode Etik Pustakawan. Yogyakarta: Ar-Ruzz  Media.

Undang Undang RI No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, Cet. Ke-2, Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 2008.

https://pixabay.com/en/photos/perpustakaan, diakses 16 Juni 2016.

 

Oleh:

IWIN ARDYAWIN, S.Sos

Perpustakaan pada zaman dahulu masih begitu sederhana bisa dilihat dari pelayanan maupun fasilitas yang ada pada saat itu. Masyarakat belum maksimal mengetahui tugas dan fungsi perpustakaan secara mendalam. Pemanfaatan perpustakaan masih sangat rendah sehingga perpustakaan dituntut untuk membenahi diri kearah yang lebih maju di era informasi ini yaitu menyesuaikan diri dengan perkembangan disekitarnya agar masyarakat lebih mengenal perpustakaan dan memanfaatkannya. Perpustakaan menurut pendapat umum merupakan suatu tempat dimana untuk menyimpan koleksi atau buku-buku yang sudah kuno maupun ketinggalan zaman. Ruangan yang digunakan oleh perpustakaan merupakan tempat yang penuh dengan debu, pengap dan gelap.

Biasanya perpustakaan dijadikan tempat yang menyembunyikan diri dari rutinitas pekerjaan. Berbagai anggapan di masyarakat dan orang yang tidak mencintai perpustakaan tentunya tidak sepenuhnya salah. Hal tersebut terjadi karena citra yang lewat gedung perpustakaan dan pustakawannya memang belum mencerminkan sesuatu yang menyenangkan. Bangunan dan ruangan perpustakaan biasanya ditempatkan pada bagian yang tersembunyi dan jauh dari fasilitas yang memadai sehingga disamping itu pustakawan yang ada juga sudah terbiasa dengan sikap yang angkuh dan masa bodoh dengan apa yang terjadi disekitarnya. Disamping itu juga anggaran yang sangat minim menjadikan perpustakaan tidak tertata dengan semestinya sehingga menjadi persoalan klasik yang sering kita dengar. Hal tersebut karena peran para pimpinan instansi yang kurang sigap akan keberadaan perpustakaan.

Bunanta Murti mengatakan bahwa perpustakaan dapat menjadi “alat” untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca bila perpustakaan dapat berfungsi sebagai pusat minat baca. Sebuah perpustakaan yang nyaman dan tenang serta mencirikan suatu tempat yang ramah dan menyenangkan bagi anak-anak dan remaja. Setelah itu, secara aktif dan kontinu membuat berbagai program sastra/ bacaan untuk menarik minat anak dan remaja (juga orang dewasa) mengunjungi perpustakaan dan memanfaatkan bacaan sebagai bagian dari kebutuhan utama.

Keberadaan perpustakaan sekolah selama ini belum mendapat perhatian serius dunia pendidikan. Di beberapa sekolah, perpustakaan diposisikan sebagai pelengkap dan dibiarkan menderita, Lasa HS, (2005). Tujuan perpustakaan sekolah adalah pendidikan, artinya tidak saja bertujuan untuk mengumpulkan dan menyiapkan bahan pustaka, tetapi juga sebagai proses belajar mengajar. Perpustakaan sekolah yang telah banyak meningkatkan konsep-konsep kependidikan, merupakan pusat informasi yang dapat membangkitkan minat baca, pusat integrasi kegiatan kependidikan di mana para siswa, guru-guru dan pustakawan dapat bekerja sama dalam memperluas pengetahuan dan pengalaman demi tercapainya tujuan pendidikan. Perpustakaan sekolah memegang peranan yang penting seperti yang tertuang dalam Undang-undang Perpustakaan No. 43 tahun 2007 pasal 23 ayat 1 yang berbunyi “Setiap sekolah/madrasah wajib menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan”.

Suherman dalam buku yang berjudul “Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah” mengemukakan fakta sudah terlalu jelas mengatakan bahwa wajah sebuah bangsa dapat dilihat dari wajah perpustakaannya dan kemajuan sebuah bangsa dapat dilihat dari tingkat minat bacanya. Baik secara langsung maupun tidak langsung kebiasaan membaca menjadi salah satu indicator kualitas sekolah bahkan secara nasional sangat menentukan tinggi rendahnya index pembangunan manusia atau human development index (HDI, dan tinggi rendahnya HDI menentukan kualitas bangsa. Sejarah dari kemajuan negara-negara di dunia, seperti Jepang, Amerika, Korea, dan negara-negara lainnya berawal dari ketekunannya membaca.

Kegiatan membaca tidak bisa dilepaskan dari keberadaan dan ketersediaan bahan bacaan yang memadai baik dari segi kuantitas maupun dalam kualitas bacaan, ketersediaan gedung perpustakaan atau ruangan perpustakaan yang nyaman, sarana dan prasarana yang memadai, serta sumber daya manusia (Librarian) yang ahli dalam bidangnya. Oleh karena itu, peran perpustakaan sangat sentral dalam membina dan menumbuhkan kesadaran membaca. Kegiatan membaca akan menjadi sebuah kebutuhan apabila kita selalu ingin mengetahui isi dari suatu bacaan. Sebanyak apapun bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan, apabila minat membaca siswa rendah maka bahan pustaka yang ada di perpustakaan tidak akan berguna. Dan sebaliknya apabila bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sedikit akan tetapi minat membaca siswa tinggi maka bahan pustaka yang ada di perpustakaan akan sangat bermanfaat dan berguna. Sehingga manfaat dari perpustakaan itu sendiri tergantung dengan minat membaca siswa.

 Maka dari itu agar perpustakaan sekolah dapat dimanfaatkan secara maksimal, minat dan kebiasaan membaca serta meningkatkan literasi informasi siswa perlu ditingkatkan dan ditumbuh kembangkan dengan berbagai upaya baik dari lingkungan sekolah maupun dari lingkungan luar sekolah (keluarga). Keberadaan sebuah perpustakaan di sekolah merupakan suatu hal yang wajib ada dalam sebuah lembaga atau lingkungan pendidikan. Perpustakaan merupakan gudangnya ilmu dan informasi bacaan, baik yang berkaitan dengan dunia pendidikan maupun pengetahuan umum sehingga keberadaan perpustakaan di lingkungan sekolah diharapkan dapat memudahkan siswa dalam mencari referensi atau rujukan sumber ilmu yang sedang dipelajarinya, dengan demikian siswa dapat mengembangkan wacana serta wawasannya lebih luas lagi.

Namun, semua itu hanya akan menjadi dilema, manakala perpustakaan sekolah tidak dikelola dengan baik. Terlebih lagi apabila suasana perpustakaan tersebut tidak menarik. Jangankan untuk membaca, sekadar singgah saja mungkin siswa sudah enggan. Siswapun lebih memilih untuk searcing informasi di internet, sehingga keberadaan sebuah perpustakaan dianggap seperti ruang kosong dan fungsinya sebagai gudang ilmu menjadi terabaikan. Sehingga untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca siswa, perlu adanya keluarga dan perpustakaan sekolah untuk mendorong siswa meningkatkan minat dan kebiasaan membacanya. Apabila kebiasaan membaca telah tertanam pada diri anak maka sudah dapat dipastikan setelah dewasa anak tersebut akan merasa kehilangan apabila sehari saja tidak membaca. Dari kebiasaan individu ini kemudian akan berkembang menjadi budaya baca masyarakat. Disinilah sekolah sebagai lingkungan terdekat kedua bagi anak berperan, yaitu dengan menyediakan bahan-bahan bacaan yang sesuai dengan minat anak lewat perpustakaan sekolah dan meningkatkan literasi informasi.

DAFTAR PUSTAKA

Bunanta, Murti 2004. Buku, Mendongeng dan Minat Membaca. Jakarta: Makalah   Seminar dan Workshop Sehari “Keterampilan Bercerita Sebagai Sarana   Meningkatkan Minat Baca Anak” IPI DKI Cabang  Jakarta Timur, 26  November 1997.

Lasa HS. 2005.  Manajemen Perpustakaan. Yogyakarta. Gama Media.

Suherman. 2009. Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah. Bandung: MQS Publishing.

Undang-undang Perpustakaan Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007.

https://pixabay.com/en/photos/perpustakaan, diakses 16 Juni 2016.

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :
IWIN ARDYAWIN, S.Sos.

Perpustakaan merupakan agen perubahan (agen of changes) atau agen pembangunan dan agen budaya. Maksudnya bahwa perpustakaan itu menjadi tempat rujukan dan sumber informasi, Sutarno NS, (2006). Bahwa perpustakaan harus berperan aktif dalam memberikan informasi kepada pengguna sehingga dampak dari informasi yang update setiap waktu, dapat memberikan solusi terhadap apa yang menjadi permasalahan yang ada di tengah masyarakat disitulah perpustakaan harus memberikan peran yang sangat penting sebagai solusi dari apa yang menjadi permasalahan tersebut. Perpustakaan merupakan suatu sarana penunjang bagi kegiatan belajar yang berfungsi sebagai pusat informasi untuk pengembangan, pendidikan, penelitian. Perpustakaan dituntut untuk dapat menyediakan pelayanan berbentuk referensi secara tepat dan cepat sesuai masing-masing kebutuhan pengguna.
Layanan perpustakaan merupakan ujung tombak dari kegiatan perpustakaan karena di dalamya terjadi pola interaksi antara pustakawan dengan berbagai macam pengguna perpustakaan. Komunikasi yang terjadi antara pustakawan dengan pengguna dalam pelayanan dimulai ketika adanya perhatian pustakawan terhadap kebutuhan pengguna. Pada saat-saat tersebut, peran pustakawan sebagai konsultan informasi sangat besar artinya, karena ia berhubungan langsung dengan pengguna yang membutuhkan informasi. Inilah kunci terjalinnya hubungan baik antara pustakawan dengan pengguna karena kemampuan pustakawan dalam menyampaikan informasi dapat menumbuhkan kepercayaan pengguna terhadap pustakawan. Istilah dari referensi berkembang dari tujuan utama perpustakaan yaitu memberikan informasi. Karena informasi yang dimiliki sering kurang memenuhi kebutuhan, perpustakaan mengarahkan mereka lebih lanjut pada lembaga ataupun sumber lain yang lebih tepat, bahkan dapat juga bertindak lebih jauh hingga pustakawanlah yang membuat perjanjian dengan lembaga lain tersebut untuk memperoleh bahan-bahan yang dibutuhkan untuk kepentingan si penanya.
Memasuki era informasi seperti saat sekarang ini, layanan referensi memainkan peranan yang penting sebagai penunjuk jalan atau mediator antara pengguna dan sumber informasi maupun informasi itu sendiri. Melalui layanan referensi ini, perpustakaan dituntut untuk menggali , menelusur keberadaan informasi dari mana saja, menyuguhkan dalam format cetak atau non cetak sesuai dengan permintaan pengguna. Format yang diminta juga dapat berkisar dalam bentuk data bibliografi, catatan hingga ringkasan, laporan, ulasan maupun tabulasi sehingga kebutuhan informasi pengguna perpustakaan dapat selalu terupdate tanpa harus menunggu keluhan dari pengguna itu sendiri.
Menurut Arlinah Imam Rahardjo, dalam melayani kebutuhan pengguna yang heterogen dari segi kesadaran akan informasi, kebutuhan, maupun tingkat pengertian, perpustakaan diharapkan pula untuk dapat memberikan jasa referensi yang beraneka ragam, sesuai dengan tujuan dan kebutuhan masing-masing. Layanan yang diberikan dapat bervariasi dari sekedar menjawab pertanyaan, mengarahkan ke sumber lain, menuntun cara menggunakan perpustakaan, menelusur informasi bagi kepentingan pengguna baik atas permintaan ataupun inisiatif perpustakaan serta mengadakan kegiatan-kegiatan promosi untuk tujuan penjangkauan masyarakat pengguna yang lebih luas.
Di dukung oleh seluruh fasilitas, hubungan dengan pihak-pihak lain yang berkaitan serta seluruh koleksi perpustakaan, jenis-jenis layanan referensi diatas dapat dilaksanakan secara menyeluruh oleh suatu unit layanan referensi atau terpisah-pisah menjadi beberapa unit yang lebih khusus. Demikian pula, semua jenis layanan referensi tersebut dapat ditangani oleh satu atau beberapa ahli secara keseluruhan atau secara sendiri-sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Arlinah Imam Rahardjo, M.LIS, 1996. Pelatihan Terpadu Manajemen Perpustakaan Modern, Universitas Kristen Petra, Pusat Pendidikan Berkelanjutan.

P. Sumardji. 1992. Pelayanan Referensi di Perpustakaan. Yogyakarta: Kanisius.

Sutarno NS, 2006. Manajemen Perpustakaan. Jakarta, Sagung Seto.

https://pixabay.com/en/photos/perpustakaan, di akses 16 Juni 2016.

Korek api (kadang disebut juga geretan atau pematik) adalah sebuah alat untuk menyalakan api. Korek api dijual bebas di toko-toko dalam bentuk paket sekotak korek api. Sebatang korek api terdiri dari batang kayu yang salah satu ujungnya ditutupi dengan suatu bahan yang umumnya fosfor yang akan menghasilkan nyala api karena gesekan ketika digesekkan terhadap satu permukaan khusus.

Korek api modern pertama ditemukan tahun 1805 oleh K. Chancel, asisten Profesor L. J. Thénard di Paris. Kepala korek api merupakan campuran potasium klorat, belerang, gula dan karet. baca disini

Tapi kalau korek api yang satu ini lain dari pada yang lain gan….:)

Ini Closet bukan buwat buang air besar gan yang sering kita gunakan pada saat mau ke toilet, ini emank aneh tapi nyata buka mata buka telinga ini korek api yang kita sering gunakan pada saat mau menyalakan kertas, lilin, menerangi yg gelap, menyalakan kompor dan fungsi satunya lagi adalah menyalakan rokok…!!!!

Seperti yang sama-sama kita ketahui buwat para pengerokok nih, korek api sangatlah penting ibaratnya ada rokok ada korek api, apalagi para anak-anak muda yang suka ngerokok and ngumpul-ngumpul bareng ma temen-temennya di berbagai tempat yang nyaman dan strategis, kadang-kadang sering terjadi pada saat kita lagi asik-asik ngumpul tiba-tiba ada yang datang menghampiri kita, kirain maunanyain alamat ehhh….
tau-taunya mas pinjem korek apinya dong??? 🙂 🙂

Begitu gelisahnya bagi para pengerokok begitu munyalain rokoknya tiba-tiba korek apinya kagak ada, apalagi yang sering menaruh korek api di saku celananya tiba-tiba ilang pasti kelimpungan dah tu nyari korek kemana-mana….
Ada sedikit tips nih buwat para pengerokok biar korek api tidak hilang ataupun ketinggalan…
1.Periksalah korek api yang hendak dibawa
2.Pastikan tempat yang anda simpan tidak sobek maupun bolong
3.Tandai korek api milik anda biasanya sering ketukar.

Inilah sepenggal cerita dari saya …
Moga bisa bermanfaat untuk kita semua/…….

Sumber: http://3.bp.blogspot.com/-9QRQZqb4DdY/TeI2cfAoGcI/AAAAAAAABjg/ZqBCAIC7MuA/s1600/korek-api-unik-8.jpg